25
Apr
08

Logika dan tuhan

Setelah mengetahui betapa teratur dan indahnya alam semesta ini, saya pikir saya telah mengenal Tuhan. Namun saat saya mulai berpikir tentangNya, saya seperti kembali terlempar ke laut terbuka. Karena saya tidak dapat menemukan cara menjelaskan kemungkinan keberadaanNya, atau sebaliknya, atau bagaimana caraNya ia mengatur alam semesta tanpa mengganggu keseimbangan alam. Sejauh yang saya tahu, saya mengamati bahwa pemikiran ini di jauhi oleh banyak orang. Namun melihat pentingnya menemukan kebenaran tentangNya, saya mesti memikirkannya juga.

Saya memulai pemikiran dengan melihat Tuhan sebagai kata benda, bukan kata sifat (adjektiva) atau kata kerja (verba). Dan karena ia sebagai benda, ia meiliki satu dari dua kemungkinan saja, nyata atau abstrak. Bila nyata, ia dapat bersifat kuantum, atau spasio-temporal. Pemikiran bahwa Tuhan telah mati, menggolongkan Tuhan sebagai benda spasio-temporal, memiliki dimensi raung dan waktu. Sementara yang dimiliki kitab suci adalah Tuhan sebagai benda kuantum. Selamanya ada. Bila Tuhan merupakan benda abstrak, maka ia hanyalah konseptual, tidak memiliki dimensi keruangan, hanya dimensi waktu. Bila Tuhan bersifat abstrak, maka ia tak lebih dari imajinasi saja. Karena tidak ada keberadaanNya kecuali dalam pikiran. Karena pikiran manusia mampu memahami abstraksi, sementara hewan tidak. Maka Tuhan saya putuskan sebagai benda konkrit kuantum.

Ini tidaklah berarti Tuhan berada di luar ruang waktu. Karena kitab suci dengan jelas mendokumentasikan keberadaanNya di dalam sejarah. Dan karena sesuatu yang di luar ruang waktu hanya ada ketiadaan mutlak yang abadi. Bila ada sesuatu, bahkan itu Tuhan, maka secara definisi, ia berada di ruang waktu. Maka Tuhan adalah benda konkrit kuantum di dalam ruang waktu.

Kemudian kita lihat pada nila kebenaran sebuah pernyataan, baik itu wahyu, atau inspirasi yang muncul begitu saja dalam pikiran. Ia bisa tergolong satu atau kombinasi dari 4 macam berikut:
1. Benar secara bahasa
2. Sah secara logika
3. Bermakna secara abstrak (tidak terputuskan benar salahnya/ undecidable, hanya ada dalam ingatan dan imajinasi)
4. Bermakna secara nyata, maka ia mesti benar atau salah (decidable)
Wahyu, sangat rapi tercatat di kitab suci. Dengan demikian dapat kita temukan nilai kebenarannya. Dan jelas dari semua wahyu agama samawi, saya temukan sebagian dalam masing2 dokumen, pelanggaran atas bahasa, logika dan bermakna yang nyata salah. Maka sebagian dari isi kitab suci bisa dikatakan datang bukan dari Tuhan. Mestikah kita memotong kitab suci menjadi tinggal separuhnya saja? Tapi bila sisa wahyu yang memenuhi syarat bahasa, logika dan bermakna benar atau undecidable bukan berarti pasti dari Tuhan. Sayapun bisa membuat kalimat demikian. Maka status dari sisa wahyu adalah undecidable.

Saya melihat pada status dari inspirasi atau intuisi. Namun saya lihat bahwa hal ini sangat subjektif. Saat seseorang mendapat inspirasi atau intuisi, yang pada awalnya undecidable, ia dapat membiarkannya undecidable atau decidable. Keputusan untuk menjadikannya keluar dari realm pikiran ke dunia nyata, adalah untuk pengujian apakah ia benar atau tidak. Bila ia benar maka bisa dari Tuhan atau dari diri kita sendiri, secara tak sadar.
Dapat disimpulkan bahwa wahyu sebagian undecidable dan intuisi begitu pula. Bila benar seluruhnya dari Tuhan, maka kenapa Tuhan mesti menyatakannya dalam teks di satu sisi dan dalam pikiran manusia di sisi lain. Dan bila kita bandingkan kedua sisi, bisa jadi salah satu bertentangan dengan satunya, sehingga menjadi decidable. Kita tinggalkan dahulu pembahasan ini untuk kita tinjau kemudian.
Sekarang bagaimana kita menilai kebenaran sesuatu? Hanya ada satu alat penilai yang mungkin yaitu logika. Di luar itu adalah spekulasi. Menduga2. Para apologetik mengatakan ada yang diluar logika dan itu adalah Tuhan. Namun Tuhan yang berada di luar logika mestinya mampu membuat sesuatu yang di luar logika pula. Dan kita melihat alam semesta yang teratur, dengan susunan logika yang kokoh. Maka bila benar demikian, Tuhan menjadi sesuatu yang impoten, tidak mampu berbuat apa2. Semua turut campurnya ia dalam logika akan meminta ia ada dalam logika. Mengatakan sesuatu berada di luar logika sama artinya mengatakan ia undecidable, hanya imajinasi. Pelarian Tuhan keluar logika saat ia terbukti gagal secara logika menunjukkan ketiadaanNya dengan sendirinya.

Disini kita harus membedakan logika dengan akal sehat. Sesuatu yang masuk akal belum tentu logis begitu pula sebaliknya. Sifatnya paralel karena memiliki asal berbeda. Logika berasal dari kecerdasan manusia sementara akal sehat berasal dari pengalaman dan pengetahuan manusia. Contohnya pesawat. Tidak masuk akan bagi orang yang hidup di abad ke-6 masehi. Tapi disaat itu kebenarannya masih belum ditemukan. Ia masih logis.
Ada beberapa jenis logika. Logika satu nilai (1VL) adaalh logika yang hanya menganggap benar segalanya. 2VL memiliki dua nilai, benar atau salah. Dan 3VL yaitu benar, salah dan Undecidable. Ada beberapa logika lain di ajukan, seperti logika al qur’an dan logika fuzzy. Pada dasarnya logika al Qur’an adalah 1VL, semua yang ada di dalam qur’an di anggap benar. Penerapan logika ini tentunya hanya dapat diterapkan dalam qur’an karena bila diterapkan dalam dunia nyata, akan timbul nilai yang salah, maka nilai ’salah’ membuatnya 2VL bahkan 3VL. Logika fuzzy begitu pula hanya dapat diterapkan pada kualitas dan komponen elektronika.
Logika 2 nilai pada awalnya dirasa cukup untuk menjelaskan dunia. Munculnya fenomena2 fisika kuantum kemudian menggugurkan hal tersebut. Dunia diatur lewat 3VL, yang memungkinkan absurditas, osilasi dan paradoks. Lebih dari 3VL akan memiliki sifat yang tidak aplikatif lagi. Maka kita mesti menguji kebenaran adanya Tuhan dengan 3VL.
Ada dua jalan menentukan kebenaran dari pernyataan atau keberadaan, yaitu hipotetico-deduktif dan induktif. Hipotetiko-deduktif memiliki bingkai aksiomatik dan bersifat intrinsik. Aksiomatik artinya ia memiliki serangkaian pernyataan yang dianggap pasti benar, misalnya lawan dari benar adalah salah. Sifat aksiomatik inilah yang ia bersifat intrinsik, yaitu mustahil untuk menemukan kebenaran mutlak. Hal ini karena kebenaran mutlak hanya da[at dibuktikan oleh adanya sudut pandang dari luar 2VL, yaitu 3VL. Namun, bila kita mengartikan mutlak dalam hal ini artinya ‘benar dengan sendirinya’, maka tentu saja ia bersifat ekstrinsik. Sebagai contoh, ‘kalimat ini bisa salah atau benar’. Ini adalah kebenaran mutlak dalam 2VL.
Metode induktif adalah tak lain metode empiris. Menemukan kebenaran lewat demonstrasi. Ini yang dipakai sains untuk memperoleh kebenaran. Seperti pada contoh pesawat sebelumnya.
Sekarang kita uji adanya Tuhan dalam 3VL. Menurut 3VL, sesuatu dapat bernilai (memakai istilah 2VL):
- Benar
- Salah
- ‘tidak salah tidak pula benar’ atau ‘benar sekaligus salah’.
Dengan ini kita bisa menemukan beragam perdebatan di bidang filsafati. Klaim bahwa seseorang mendapat wahyu, yang hanya disaksikan oleh orang tersebut membuat hal tersebut tidak bernilai bila dilihat secara induktif maupun deduktif.Posisi defaultnya menjadi salah. Sama halnya dengan seseorang datang kepada anda dan mengatakan ada kucing kepala tiga. Hal tersebut tidak menjadi benar atau undecidable. Hal tersebut tetap salah sampai anda sendiri melihat adanya kucing kepala tiga tersebut.

Sains, yang merupakan metode induktif dari logika, memberi penjelasan lain. Fenomena kelainan mental, yang berbentuk schizoprenia atau mutasi positif dapat bertanggung jawab. Mutasi positif umumnya berorientasi pada adanya indera baru yang muncul pada diri individu. Dengan tambahan indera ini, individu tersebut memiliki kepekaan yang lebih tinggi dari manusia normal. Lalu apakah dengan perangkat tambahan ini, ia bisa merasakan adanya Tuhan? Sepertinya tidak. Bila kita dulu dilahirkan buta, lalu tiba2 bisa melihat, kita tidak melihat Tuhan. Dan hewan2 yang memiliki indera lain dari manusia, seperti kelelawar (ekolokasi), hiu ( medan listrik), boa (panas), kolibri (ultraviolet), kucing (”tapetum lucidum”), ular (lidah perasa molekul udara), ngengat (feromon), tikus (sungut), ikan genderang (Weberian apparatus) dan burung (medan magnetik), dapat ditiru kemampuannya di laboratorium dan tetap saja tidak menemukan Tuhan.

Tuhan yang dipahami kitab suci adalah tuhan yang melanggar logika 2VL bila dianggap tidak salah. Dalam artian statusnya undecidable. Tuhan yang membuang manusia dari surga karena rasa ingin tahunya, Tuhan yang bersemayam di atas arsy yang dipanggul para malaikat di atas air, Tuhan yang menghukum manusia atas ketidak patuhan nya pada kitab suci yang penuh kontradiksi dengan hukuman abadi di neraka.

Fenomena Undecidable yang dipahami fisika kuantum akan saya jelaskan sebentar sebagai perbandingan. Fisika kuantum menunjukkan bahwa pikiran mampu menciptakan realitas2 baru secara lengkap. Kesadaran manusialah yang menciptakan realitas yang kita anggap berada di luar kita. Hal ini di demonstrasikan dengan baik oleh para ilusionis seperti Chriss Angel. Semua didasari atas sifat partikel yang bisa berada dalam banyak tempat sekaligus, namun hanya ada satu. Percobaan celah ganda menunjukkan bahwa partikel memiliki sifat demikian. Partikel menunjukkan tak terhingga jenis perilaku pada waktu yang sama. Ini terjadi pada partikel2 yang bersirkulasi di otak yang mencitra persepsi kita.

Penjelasan fisika kuantum ini dapat menjelaskan bahwa Tuhan sebenarnya adalah buatan kita sendiri (disamping penjelasan evolusioner: Tuhan adalah cara manusia untuk merasa tenang dalam menghadapi kematian), bila kita tidak mau menyebutNya tidak ada. Tapi ini bisa menjadi pisau bermata dua. Bisa jadi Tuhan menciptakan alam semesta yang undecidable seperti demikian.

Seperti yang dipahami Einstein , Clifford dan Wheeler, alam semesta di luar diri kita adalah ruang kosong yang melengkung. Segala yang kita rasalan dalam realita adalah ciptaan pikiran kita sendiri sebagai pengaruh dari ruang elektrodinamika kuantum. Dimana Tuhan? Sebagai objek nyata, ia dapat di interpretasi sebagai gelombang dalam buih kuantum. Mungkin gelombang yang paling besar. Selaras dengan Whittaker, alam elektrodinamika itu sendiri adalah Tuhan, yang salah satu bagiannya adalah kita. Atau, kita menciptakan Tuhan. Kembali spekulasi muncul seperti sebelumnya.

Dalam pemahaman 3VL, kita terjebak pada spekulasi. Berbeda dengan 2VL, yang jelas menunjukkan Tuhan Tidak ada. Logika tiga nilai, lebih cocok dengan kenyataan fisika. Dan pada pemahaman ini kita cenderung menjadi agnostik.

Saya mengakui bahwa Tuhan mungkin ada, tapi jelas ia bukanlah Tuhan yang dinyatakan oleh agama samawi ( atau lebih adilnya, agama ibrahim). Tuhan mungkin ada di sana dan belum kita temukan.

Dalam pembahasan memakai 3VL untuk wksistensi Tuhan ini, saya menyimpulkan bahwa saya atheist. Saya atheist bukan hanya pada 2VL, tapi 3VL, apalagi 1VL. Argumen saya adalah dengan membandingkan Tuhan dengan elektron. Hal ini rasional, karena keduanya sama2 konkrit kuantum di dalam ruang waktu dan bernilai undecidable. Tentu saja ada perbedaan antara keduanya, dan perbedaan inilah yang menjadi landasan argumen saya. Untuk mengetahui elektron bersifat Undecidable atau decidable, kita harus mengetahui bahwa elektron itu benar2 ada dan ia telah terbukti ada. Untuk mengetahui Tuhan bersifat Undecidable atau decidable, kita harus mengetahui bahwa Tuhan itu benar2 ada dan ia sampai sekarang tidak terbukti ada.


0 Responses to “Logika dan tuhan”


  1. No Comments

Leave a Reply




Kapan Lagi??

Ph4dh1i R4phiqi(h4ck3r), 16 74hun, bogor utara, jawa. +6285668923473

Calendar

April 2008
M T W T F S S
    May »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Archives

Add to Google

PENGUMUMAN

Blog Stats

  • 23,537 hits

Online User

web tracker

My Friend:

Sponsors

TBOYMASTER.COM

cool hit counter